Masuk

Weighted Moving Average (WMA): Bagaimana Cara Menggunakannya dalam Trading?

Adam Lienhard
Adam
Lienhard

Weighted Moving Average, juga dikenal sebagai WMA, merupakan indikator teknis yang digunakan oleh para trader untuk menentukan arah transaksi dan mengambil keputusan beli atau jual. Indikator ini lebih mementingkan titik data terbaru dan kurang mementingkan titik data sebelumnya. Untuk mencapai hal ini, setiap pengamatan pada kelompok data dikalikan dengan faktor pembobotan yang telah ditentukan sebelumnya. Pelajari selengkapnya mengenai WMA untuk menggunakan meraih keuntungan.

Apa WMA itu?

Weighted Moving Average (WMA) berbeda dengan Simple Moving Average (SMA), yang memberikan bobot sama untuk semua angka. Dalam indikator WMA, titik data terbaru diberi bobot, titik data terbaru kedua diberi bobot 0,9, dan seterusnya. Hal ini berarti bahwa titik data terbaru diberikan bobot yang lebih tinggi dalam menghitung moving average, membuat WMA lebih responsif terhadap perubahan harga terkini.

Berikut cara mengkalkulasikan WMA 5 periode:

WMA = (P1 * 5) + (P2 * 4) + (P3 * 3) + (P4 * 2) + (P5 * 1) / (5 + 4+ 3 + 2 + 1)

Dalam rumus ini, P1 hingga P5 mewakili titik data harga untuk 5 periode.

Kenapa menggunakan WMA?

Dalam hal trading, Weighted Moving Average (WMA) dapat menjadi alat yang berguna untuk menghasilkan sinyal trading. Jika harga bergerak menuju atau di atas WMA, itu bisa menjadi waktu yang bagus untuk keluar dari suatu transaksi. Sebaliknya, jika pergerakan harga turun di dekat atau tepat di bawah WMA, ini bisa menjadi indikasi waktu yang tepat untuk memasuki perdagangan.

Perlu dicatat bahwa meskipun WMA dapat mengidentifikasi tren lebih awal daripada Simple Moving Average (SMA), WMA juga dapat mengalami lebih banyak whipsaw, yaitu perubahan harga yang tiba-tiba dan drastis. Oleh karena itu, sangat penting untuk menggunakan WMA bersama dengan indikator dan strategi lain untuk mengonfirmasi sinyal dan memanajemen risiko.

Bagaimana cara menggunakan WMA?

Weighted Moving Average (WMA) dapat digunakan dalam trading untuk menghasilkan sinyal trading, sama seperti indikator teknis lainnya. Ikuti langkah-langkah berikut untuk memanfaatkannya secara maksimal:

Langkah 1. Menghitung WMA

Untuk menghitung WMA dalam waktu tertentu, Anda perlu mempertimbangkan harga penutupan pada beberapa hari terakhir. WMA lebih mementingkan titik data terbaru dibandingkan dengan titik data lama. Contohnya, jika Anda ingin menghitung WMA 10 hari, Anda harus mempertimbangkan harga penutupan 10 hari terakhir.

Langkah 2. Identifikasi potensi sinyal trading

Setelah mendapatkan WMA, Anda bisa menggunakannya untuk mengidentifikasi potensi sinyal trading.

Untuk sinyal beli. Ketika harga suatu aset melintas di atas Weighted Moving Average (WMA), kondisi ini dapat dianggap sebagai sinyal untuk membeli. WMA merupakan indikator tren, dan persilangan bullish (harga yang melintas di atas WMA) dapat mengindikasikan bahwa harga bergerak naik.

Untuk sinyal jual. Ketika harga suatu aset melintas di atas Weighted Moving Average (WMA), kondisi ini dapat dianggap sebagai sinyal untuk membeli. Hal ini disebabkan oleh WMA yang merupakan suatu indikator tren, dan persilangan bullish (harga yang melintas di atas WMA) dapat mengindikasikan bahwa harga bergerak naik. Sebaliknya, ketika harga suatu aset melintas di bawah WMA, kondisi ini dapat dianggap sebagai sinyal untuk menjual. Hal ini disebabkan oleh WMA yang masih merupakan indikator tren, dan persilangan bearish (harga melintas di bawah WMA) dapt mengindikasikan bahwa harga sedang bergerak turun.

Langkah 3. Konfirmasi sinyal dengan indikator lainnya

Meskipun WMA (Weighted Moving Average) dapat memberikan sinyal yang berguna, Anda perlu mengonfirmasi sinyal-sinyal ini dengan indikator lain untuk menghindari sinyal positif yang palsu. Sebagai contoh, Anda bisa menggunakan indikator garis tren untuk mengonfirmasi tren yang diindikasikan oleh WMA. Demikian pula, Anda dapat menggunakan Relative Strength Index (RSI) untuk mengonfirmasi kekuatan tren. Ini akan membantu Anda membuat keputusan trading yang lebih tepat.

Langkah 4. Atur level Stop Loss dan Take Profit

Sangat penting untuk menentukan level Stop Loss dan Take Profit untuk trading Anda. Untuk posisi long, tetapkan level Stop Loss di bawah WMA, dan untuk posisi short, tetapkan di atas WMA. Level take profit haruslah level yang nyaman untuk Anda dan memberikan ruang bagi harga untuk berfluktuasi.

Ikuti kami di Telegram, Instagram, dan Facebook untuk mendapatkan kabar terbaru dari Headway.